Simfoni Lili Putih
Senja mulai kembali menyapa, mentari
mulai pulang ke peraduannya tapi sepertinya bukan itu yang diharapkan Yuri. Dia
tidak ingin malam cepat datang, dia tidak ingin perang itu dimulai lagi apa
lagi di saat dia belum berada di tempat yang aman. Dengan terengah-engah dia
akhirnya bisa sampai di bunker tepat pada waktunya, sebelum malam tiba dan
sebelum peristiwa berdarah itu terjadi.
“Yuri-chan, cepat masuk atau kau
akan tinggal nama,”teriak Paman Daiki.
Yuri tidak menjawab tapi dia langsung
berlari ke arah bunker itu, di dalam sudah ada beberapa keluarga yang
bersembunyi. Menunggu perang mengerikan ini berakhir.
“Oji-san, apa ada yang
terluka?,”tanyanya dengan nada khawatir, sementara tangannya masih sibuk
mengambil perban dan berbagai obat luka.
“Hanya ada satu, mereka sudah kapok
berada di luar. Tidak seperti mu yang masih cari mati,”jawab Paman Daiki.
Tanpa memperdulikan pamannya Yuri
segera mencari korban yang terluka, dia tidak mau ada korban yang terlambat
diberi pertolongan seperti ibunya. Baginya cukup dia saja yang merasakan
kehilangan, dia tidak ingin ada keluarga lain yang merasa kehilangan.
Dengan senyum ramahnya Yuri
melangkah semakin ke dalam bunker, menyusuri ruang bawah tanah yang pengap dan
menyesakkan dada. Tujuannya hanya mencari korban yang terluka akibat perang
yang sudah berlangsung selama satu tahun ini.
cd
Akhirnya pagi datang lagi, mentari
kembali menyinari pagi ini. Yuri harus buru-buru pergi ke luar dan mencari
bahan obat-obatan. Persediaan yang dibawanya kemarin ternyata sudah hampir
habis padahal dia sudah membawa banyak bahan obat.
“Yuri-chan, hati-hati. Pulanglah
sebelum matahari terbenam,”teriak Paman Daiki.
“Ok Paman,”balas Yuri.
Gadis itu berjalan riang menyusuri
hutan, meskipun disebut hutan tempat ini lebih mirip kuburan. Pasalnya di
daerah ini banyak bangkai pesawat berjatuhan tapi anehnya Yuri tidak
mempedulikannya, dia hanya fokus mencari bahan obat untuk para penghuni bunker.
Setelah berjalan setengah kilo meter
akhirnya Yuri menemukan tanaman obat yang bisa digunakan, memang efeknya tidak
terlalu cepat tapi cukup ampuh untuk menyembuhkan luka. Pencariannya terhenti
ketika ia mendengar suara orang merintih kesakitan, secara refleks ia segera
mencari asal suara itu.
Akhirnya dia menemukan pemilik suara
itu, seorang lelaki yang tengah tergeletak di antara rerumputan. Keadaaanya
cukup memprihantinkan, luka lebam menghiasi sekujur tubuhnya sementara
kepalanya berdarah.
“Siapa orang ini? Aku tak pernah
melihatnya sebelumnya, apa dia termasuk orang-orang yang berperang? Atau hanya
pengungsi yang jadi sasaran amukan tentara?,”pikirnya.
Yuri membungkuk untuk memeriksa
tanda vital orang itu, ternyata dia masih hidup. Tiba-tiba ada rasa takut di
dalam hati Yuri, dia takut kalau orang itu ditolongnya maka dia akan jadi
sasaran amukan tentara. Dengan setengah berlari dia berusaha segera
meninggalkan tempat itu tapi suara rintihan orang itu membuatnya berhenti.
“Tak baik rasanya membiarkan orang
ini menderita, aku tak mau keluarganya sedih karena kehilangan orang ini,”pikir
Yuri.
Dengan susah payah Yuri memapah
orang asing itu ke sebuah bunker sempit tak jauh dari hutan, bunker yang sudah
tak berpenghuni itu sepertinya tempat yang aman untuk menyembunyikannya. Yuri
jelas tak bisa membawa orang itu ke bunkernya, pasti Paman Daiki akan marah
besar.
Bunker itu sempit dan pengap
ditambah lagi sinar matahari jarang bisa masuk ke dalam. Di sudut ruangan
lumut-lumut hijau tumbuh menambah kesan tak terurus pada bunker itu. Dulunya
bunker ini digunakan sebagai gudang obat dan makanan tapi beberapa waktu yang
lalu bunker ini dirusak oleh para tentara, mereka mengira bunker ini adalah
gudang milik musuh mereka.
“Semoga aku melakukan kesalahan,”katanya.
cd
Hari ini Yuri datang lagi ke bunker
itu, seperti beberapa hari yang lalu dia masih mencoba mengobati orang asing
itu. Yuri terus berharap agar orang itu cepat sadar meskipun dia tahu mungkin
saja orang itu akan membawa bencana baginya.
Yuri hanya bisa datang siang hari
dan dia harus segera kembali ke bunker sebelum matahari terbenam, sebelum
perang mengerikan itu kembali terjadi.
“Selamat pagi orang asing, bagaimana
kabarmu hari ini? Ku harap kondisimu lebih baik daripada kemarin,”katanya
riang.
“Hey, lihat di luar cerah sekali.
Kau tahu, sekarang sudah masuk musim semi. Musim yang paling indah, aku ingin
ada bunga lili yang mekar,”celotehnya, dia terus menceritakan tentang bunga
lili putih pada orang yang terbaring lemah itu.
“Omong-omong soal lili putih, ibuku
dulu sering menyanyikan lagu tentang bunga itu. Katanya dia menganggap lili
putih sebagai pembawa perdamaian,”
“Aku akan menyanyikannya untuk
mu,”katanya semangat, ia berharap lagu itu bisa membangunkan orang yang ia ajak
bicara.
Yuri mulai bernyanyi, menyanyikan
lagu ciptaan ibunya sendiri. Terakhir kali ia mendengar lagu itu saat ibunya
sedang berjuang untuknya, berjuang agar tidak meninggalkannya tapi pada
akhirnya Yuri memang tetap kehilangan ibunya. Inilah yang menyebabkan Yuri
selalu mencari obat untuk menolong para pengungsi, dia tak mau ada pengungsi
yang kehilangan anggota keluarganya sama seperti yang dialami Yuri.
Sebuah benda cair yang bening
menetes melalui pipinya setelah dia selesai bernyanyi, Yuri teringat saat-saat
terakhir ibunya, saat ibunya tengah melawan rasa sakit akibat peluru yang
bersarang ditubuhnya. Meskipun ibunya sedang sekarat tapi Ibu Yuri tetap saja
menyanyi untuknya, ibunya berharap agar Yuri bisa melihat indahnya perdamaian
di Aomori suatu saat nanti.
“Ke.. ke.. napa? Kenapa kau
menangis?,”tanya orang itu dengan sedikit terbata.
Yuri memandang takjub, akhirnya
orang yang telah sekarat selama tiga hari ini bangun.
“Syukurlah kau sudah sadar, ku kira
kau akan mati,”kata Yuri setengah bergurau, dia juga masih setengah tak percaya
kalau orang itu sudah sadar.
“Terima kasih sudah menolongku, siapa
namamu?,”tanyanya.
“Ichikawa Yuri, kau?,”
“Ren,”jawabnya singkat.
“Tak ada nama keluarga?,”
“Lebih baik kau tak tahu,
omong-omong aku dimana?,”tanya Ren mencoba mengganti topik pembicaraan.
“Kau ada di Aomori, arena perang
yang tak pernah dijamah pemerintah Jepang,”jawab Yuri dengan nada sedih, ia tak
bisa memungkiri kalau kota kelahirannya sekarang sudah menjadi arena perang
selama satu tahun.
Raut wajah Ren yang tadinya terkejut
berubah sedih sama seperti Yuri, tangannya menggenggam erat selimut seperti
menahan amarah.
“Kenapa masih ada orang di daerah ini?
Bukankah seharusnya semua sudah pindah ke Tokyo?,”
“Tidak ada yang pindah ke Tokyo,
pemerintah tidak bisa mendekat ke daerah ini. Semua akses ditutup oleh tentara
perang,”cerita Yuri.
“Padahal yang berperang bukan kita
tapi justru kita yang menjadi korban,”kata Ren sambil menerawang masa lalunya.
“Sudahlah, tak usah memikirkan hal
itu. Bagaimana keadaanmu?,”
“Lebih baik dari kemarin, kau
membuatku tidak cepat mati,”
Yuri dan Ren tertawa bersama, mereka
melupakan sejenak perang yang sedang berkobar di sekitar mereka.
cd
Matahari tidak bersinar terang hari
ini, angin sepoi-sepoi bertiup sepanjang hari menemani bunga-bunga yang
bermekaran. Yuri masih ada di bunker Ren, mengganti perbannya dan memberi obat.
Inilah rutinitas Yuri akhir-akhir ini, merawat Ren sampai sembuh seperti sedia
kala.
“Kau mau kemana setelah ini?,”tanya
Ren.
“Aku akan pergi mencari obat dan
mengunjungi peri perdamaian di hutan,”jawabnya yang membuat dahi Ren berkerut.
“Peri perdamaian? Seperti di negeri
dongeng saja,”
“Bukan di negeri dongeng, tapi di
hutan. Kau akan terkejut melihatnya, dia sangat cantik,”
“Baiklah, aku ingin melihat seperti
apa peri itu,”balas Ren.
cd
Angin meniup ilalang yang ada di
hutan, mengajak bunga-bunga yang bermekaran. Dua manusia menikmati keindahan
alam yang belum terjamah pesawat tempur serta granat dan ranjau, bunga-bunga
yang bermekaran menghiasi padang ilalang yang membentang luas. Mereka berhenti
di depan bunga yang tengah berdansa dengan angin, bergoyang ke kanan dan kiri
dengan anggun.
“Bagaimana bisa bunga Lili ini jadi
peri perdamaian?,”tanya Ren heran, dahinya berkerut untuk menemukan jawaban
dari pertanyaannya sendiri.
“Itu hanya secara simbolik saja,
sebenarnya peri perdamaian adalah manusia. Apa kau tahu bunga ini tak akan ada
kalau tak ada yang menanam, siapa lagi kalau bukan manusia yang menanam?,”jawab
Yuri.
“Maaf tapi aku masih tak mengerti
maksud ucapanmu,”.
“Kita bisa membuat dunia damai
seperti halnya menanam bunga lili tapi kita juga bisa mengobarkan perang
semudah menanam bunga lili,”
“Jadi maksudmu kita bisa
menghentikan perang ini?,”
“Kalau ada yang memulai pasti akan
ada perdamaian, kalau saja mereka tidak egois dan mau menghentikannya pasti
para pengungsi akan bebas dari cengkeraman ketakutan,”
Ren diam, mencerna kata-kata Yuri
dan mencoba melihat kehidupannya sebelum bertemu Yuri. Dia kabur dari ayahnya,
dia muak dengan semua rencana peperangan ayahnya apalagi ayahnya semakin
menjadi-jadi setelah ibunya tewas terkena serangan lawan ayahnya. Tapi kini ia
sadar, tak sebarusnya dia bersikap seperti itu. Seharusnya dia bisa membuktikan
pada ayahnya kalau perang ini justru menimbulkan banyak penderitaan.
“Terima kasih,”
“Untuk apa? Kau sudah mengucapkan
terima kasih untuk bantuanku,”
“Kau membawaku bertemu peri
perdamaian dan menyanyikan lagu itu,”kata Ren sambil tersenyum.
“Itu hanya kebiasaan saja, kau tak
perlu berterima kasih sampai dua kali,
cd
Sejak kejadian hari itu Yuri tak
pernah lagi datang ke bunker Ren, Ren sudah pergi entah kemana. Yuri pikir dia
punya masalah lain yang harus dikerjakannya, ia hanya berharap Ren tidak
terluka seperti saat ia pertama kali bertemu dengan Ren. Ia jadi bertanya-tanya
siapa sesungguhnya orang yang telah ditolongnya itu? Apakah dia seorang
penjahat? Atau orang tak berdosa yang terkena imbas peperangan? Yuri hanya bisa
menduga-duga tanpa tahu siapa sesungguhnya Ren.
cd
Akhirnya setelah menanti satu tahun
bendera itu berkibar juga, bendera putih dari kedua pihak yang berperang sudah
berkibar. Peristiwa yang selama ini
hanya menjadi mimpi para korban perang kini menjadi kenyataan, isak tangis
bahagia menjadi simfoni yang mengiringi hari bahagia itu. Kini tak akan ada
lagi jerit ketakutan atau tangisan kesedihan, semua ketakutan telah sirna dan
berganti menjadi kebahagiaan.
“Akhirnya semua selesai,”kata Paman
Daiki.
Yuri memandang tanah hijau yang ada
di depannya, sekarang tanah itu telah dipenuhi para tentara yang sibuk berjabat
tangan. Mereka tersenyum bahagia, sepertinya semua ini memang sudah dinantikan
oleh semua pihak termasuk para tentara itu.
Setetes air mata kembali meluncur
turun dari mata Yuri, kali ini bukanlah air mata kesedihan tapi air mata
bahagia. Bahagia karena akhirnya keinginan ibunya terwujud, keinginan terakhir
ibunya adalah perdamaian di kampung halamannya. Meskipun ibunya tak lagi ada di
dunia ini Yuri yakin ibunya tetap melihat peristiwa ini dari tempatnya
sekarang.
“Lihatlah Bu, sekarang sudah ada
bendera putih. Mereka sudah berdamai dan mengakhiri perang,”kata Yuri.
Di padang ilalang serumpun bunga
lili putih berpesta bersama angin merayakan perdamaian. Peri perdamaian
akhirnya telah menjalankan tugasnya.
cd
Yuri terdiam melihat sebuket bunga
lili yang ada di depan matanya, ia sudah menempatkan bunga cantik itu dalam vas
berisi air. Dia berulang kali memikirkan siapa pengirim bunga itu, hanya ada
sebuah kartu yang berisi inisial S.R. Selama berada di Tokyo dia tak pernah
memiliki teman dengan inisial S.R, atau mungkin ini hanya salah kirim?
“Yuri-chan, ayo pergi. Nanti kita
bisa ketinggalan,”ajak Kimiko.
“Gomen, ayo pergi,”
Sudah satu tahun sejak perang usai,
Yuri akhirnya bisa meneruskan kuliahnya di Universitas Tokyo. Kini dia menjadi
salah satu mahasiswa fakultas kedokteran Universitas Tokyo bersama sahabatnya,
Kimiko.
“Yuri-chan, kata Profesor Taka akan
ada kunjungan dari perwakilan WHO,”kata Kimiko riang.
“Kita harus datang, kita harus
meliput acara itu untuk majalah fakultas,”usul Akako.
“Jam satu siang rombongan akan
datang ke aula, jadi bersiap-siaplah,”tambah Yuri.
“Yuri-chan, kenapa tadi
melamun?,”tanya Kimiko.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya sedang
merindukan Paman Daiki,”
cd
Jarum panjang yang ada pada jam
dinding besar di aula Universitas Tokyo sudah ada di angka dua belas, artinya
sekarang sudah jam satu siang tepat. Sesuai pemberitahuan, para staf perwakilan
WHO mulai berdatangan. Yuri dan kawan-kawan segera menjalankan tugasnya, selain
mereka banyak wartawan yang datang untuk melakukan wawancara eksklusif dengan
perwakilan WHO.
Semua orang yang ada dalam aula kini
tersedot perhatiannya ke arah para staf dan perwakilan, mereka berharap dapat
memperoleh jawaban dari pertanyaan mereka. Yuri merasa pernah mengenal salah
seorang staf tapi dia tak mengingat dengan jelas siapa orang itu.
“Tuan Suguru, Anda merupakan pewaris
tunggal Suguru corp. Apa tujuan anda ikut dalam WHO?,”tanya salah seorang
wartawan.
“Saya ingin membantu korban perang
dan mengupayakan perdamaian di daerah konflik,”
“Apa alasan anda ingin berbuat
seperti itu? Bukankah sudah ada PBB yang akan menangani konflik di berbagai
belahan dunia?,”
“Semua orang bisa membuat perdamaian, sama mudahnya
dengan menanam lili putih,”
“Kalau bukan kita siapa lagi yang
akan mewujudkan perdamaian?,”tambahnya.
Yuri terperanjat mendengar kata-kata
itu, dia terus bertanya-tanya siapa sebenarnya orang ini? Kenapa dia bisa tahu
kata-kata warisan ibunya?
Salah seorang wartawan di dekatnya
mengatakan bahwa orang itu yang telah membuat perang di kampung halamannya
berakhir. Orang itu berhasil meyakinkan ayahnya bahwa perdamaian bisa tercipta
jika ada yang mau berusaha mendapatkannya. Setelah berhasil meyakinkan ayahnya
dia bergabung bersama WHO sambil meneruskan usaha ayahnya.
“Terima kasih telah membawa
perdamaian,”kata Yuri dalam hati.
cselesaid
