1. Perfect Sister
Aku masih menggeliat malas di tempat tidur, rasanya aku masih ingin berada di alam mimpi tapi sepertinya umi tidak berpendapat seperti aku. Umi masih berusaha membangunkan aku dengan berbagai cara, termasuk menyiramku dengan air dan membuka jendela kamarku lebar-lebar. Suara umi terdengar memanggil namaku, dalam keadaan setengah sadar aku melihatnya menggoyang-goyangkan tubuhku.
“Rafa, bangun nak. Matahari sudah tinggi,” kata umi membangunkanku.
“Tanggung Mi, lima menit lagi deh,”
“Ayo sayang, ini sudah pukul 06.00 pagi. Memangnya kamu enggak salat subuh?,”
Aku hanya menggeliat dan menguap lebar, kemudian tertidur lagi tanpa menghiraukan kata-kata umi. Umi sepertinya sudah putus asa denganku, anak lelakinya tak pernah bisa membuatnya puas telah melahirkan anak itu.
“Sudah Mi, biarkan saja anak seperti itu. Dia terlalu manja,” komentar abi dari ruang tamu.
Akhirnya aku bangun dari alam mimpiku setelah mendengar abi marah-marah sambil menceramahiku, harus salat subuhlah, harus bangun pagilah, harus begini, harus begitu. Tampaknya kak Raisya dan abi sudah duduk di meja makan, aku duduk di depan kak Raisya sementara umi sedang sibuk memasak makanan di dapur. Kak Raisya yang sedang libur tengah semester tampaknya akan mendapatkan banyak sanjungan dari umi dan abi, ditambah lagi pujian dari ibu-ibu persit[1] yang ingin menjadikan kak Raisya menantu mereka.
“Kamu memang selalu malas, bangun pagi saja harus Umi yang membangunkan. Contohlah kakakmu, dia disiplin mengatur waktunya tidak seperti kamu yang selalu malas-malasan. Mau jadi apa kamu nanti?,” kata abi tegas.
“Tapi Bi, Rafa kan bukan Kak Raisya,”
“Kamu memang bukan Raisya tapi cobalah meniru hal-hal baik yang dilakukan kakakmu, itu lebih baik dari pada kamu bergaul dengan teman-temanmu yang pembangkang itu,”
“Sudah Bi, pagi-pagi seperti ini jangan ribut-ribut. Kasihan Rafa Bi,” kata kak Raisya menengahi, dalam hati aku bersorak kegirangan karena ada yang membelaku walaupun yang membelaku adalah orang yang paling aku benci.
“Raisya benar Bi, malu kalau tetangga sampai dengar,” tambah umi sambil meletakkan sarapan di atas meja.
Aku memang sudah sangat hafal dengan sifat keluargaku ini, aku terlahir di keluarga TNI. Abi adalah seorang tentara berpangkat Letnan dua, sedangkan umi adalah seorang guru di Sekolah Menengah Pertama. Abi yang tegas dan disiplin serta umi yang lembut dan bijaksana, pasangan yang saling melengkapi.
Dari pernikahan kedua orang tuaku, lahir dua orang anak yang berbeda 1800, aku dan kak Raisya. Kakakku selalu menjadi kebanggaan keluarga yang jelas dia selalu jadi perfect sister sementara aku hanya menjadi bulan-bulanan omelan abi. Menurut orang-orang, aku adalah anak badung yang enggak bisa diatur, suka melanggar berbagai aturan dan seenaknya sendiri. Padahal menurutku semua itu terlalu berlebihan, aku hanya melakukan hal-hal yang aku sukai.
Perlakuan abi yang membedakan aku dengan kak Raisya pernah membuat aku curiga kalau aku bukanlah anak kandungnya, mana ada sih orang tua yang selalu marah-marah sama anaknya? Ditambah lagi aku sering dibanding-bandingkan dengan Kak Raisya. Pernahkah Abi memikirkanku dan menganggapku sebagai anaknya? Kurasa jawabannya adalah tidak pernah. Bahkan mungkin aku tak pernah ada dalam pikirannya sedikit pun bahwa aku adalah putranya, mungkin saja dia tidak menginginkanku hadir ke dunia. Hanya satu kalimat yang dapat menggambarkan keluargaku, Raisya selalu benar dan Rafa selalu salah.
“Rafa berangkat dulu,”
“Hati-hati Fa,” kata umi.
Aku sedang berjalan ke garasi di samping rumah saat kak Raisya menghampiri aku dengan terburu-buru.
“Rafa, kamu lupa sesuatu,” kata kak Raisya.
“Lupa apa Kak? Rasanya Rafa udah bawa semuanya,”
“Kamu lupa mengucap salam, masa adik kakak yang ganteng ini sampai lupa?,”
“Oh iya Kak, Asalamualaikum,”
Aku memang membenci kak Raisya, kakak yang selalu menungguliku dan selalu dijadikan pembanding denganku. Tak pernahkah ia merasa kalau aku tidak berharap menjadi adiknya? Aku bahkan tidak berharap lahir ke dunia ini. Selain itu apa pentingnya sih sebuah salam? Memangnya kalau tidak ada salam dunia akan kiamat?
“Waalaikum salam,” kata kak Raisya.
Aku menstater motorku dan kemudian membawanya ke arah luar asrama. Ya, aku tinggal di Asrama Yonif 411 yang ada di Salatiga. Sebagai kompensasi atas tugasnya membela negara, abi boleh menempati salah satu rumah dinas di Asrama Yonif 411 Kostrad/Pandawa. Kehidupan militer jelas tak pernah lepas dari perjalanan hidupku, kedisiplinan adalah ajaran paling pokok dalam hidupku di asrama.
Aku menikmati hawa dingin kota ini, meskipun ini kota kecil tapi bagi ku ini adalah kota yang paling indah. Beberapa pohon hijau di protokol jalan dengan back ground gunung Merbabu membuat kota kecil ini kian menawan hati, banyak sekali tempat wisata yang ditawarkan dengan berjuta fasilitas dan keindahan masing-masing. Mungkin ada yang mau bertamansya ke Asrama Yonif 411?
Meskipun aku sering dianggap bandel bin badung, otakku ini cukup encer. Aku bisa masuk ke sekolah favorit di kota ini, setelah bersaing dengan 500 pendaftar. Kak Raisya juga alumni SMA N Nusa Bangsa dan pastinya meninggalkan berbagai prestasi di sekolah ini. Tidak hanya di rumah, di sekolah aku juga selalu dibandingkan dengan kakakku. Aku sangat hafal kata orang-orang tentang aku dan kak Raisya, mereka selalu bertanya-tanya kok bisa kak Raisya punya adik seperti aku?
Aku memang sudah terlalu lelah seperti ini, selalu dibandingkan dengan kak Raisya. Ada satu hal yang bisa membuatku senang soalnya kak Raisya enggak mungkin bisa menandingiku, balapan motor. Di daerah Kopeng yang ada di dekat Salatiga jalannya sepi dan naik turun, hal itu menjadikan daerah Kopeng sebagai alternative untuk balapan. Akhirnya aku menjadi ketua tim The Black Shadow, sebuah tim balapan motor jalanan.
Akhir minggu ini rapor akan dibagikan disusul libur panjang, begitu aku masuk kelas semuanya ribut seperti ribuan lebah pekerja yang tengah mengumpulkan madu. Kebanyakan mereka membicarakan rencana liburan dan kekhawatiran mereka pada nilai rapornya. Aku memilih keluar dari keributan kelasku, pergi menyendiri ke perpustakaan. Walaupun aku membawa buku fisika, toh yang aku baca adalah komik yang terselip di dalam buku.
Aku memilih duduk di sudut perpustakaan, di tempat inilah aku biasanya menghabiskan waktu isitirahatku untuk membaca komik. Kadang-kadang aku membaca buku pelajaran juga, itupun kulakukan jika ada ulangan.
“Pasti baca komik lagi,” kata sebuah suara, suara yang sangat familiar bagiku.
“Suka-suka aku dong, emang kenapa?,” tanyaku pada gadis berjilbab yang berdiri di hadapanku, dia adalah sahabatku dari kecil namanya Syifa.
“Enggak baik terus-terusan baca komik, sekali-sekali baca yang lain,” sarannya.
“Baca apa?,”
“Nih,” katanya sambil menyodorkan sebuah buku.
“Apaan nih?,” tanyaku heran, aku mengamati buku itu dari atas hingga bawah. Buku berwarna putih itu berhiaskan tulisan Arab yang tak bisa aku baca dan berbagai ornament di pojok kanan dan kirinya. Melihatnya saja aku sudah malas apalagi kalau membaca pasti dalam waktu kurang dari satu menit aku sudah tertidur. Lagi pula aku heran pada orang-orang, kenapa senang sekali memaksaku belajar tentang islam? Apa pentingnya itu buatku? Memangnya kalau aku belajar islam abi akan berhenti membandingkanku dengan kak Raisya?
“Itu buku yang akan membawa kamu untuk mencintai Rasulullah,”
“Males ah,”
Lebih baik aku segera menolak dari pada nanti dikejar-kejar Syifa untuk membaca buku itu padahal aku ingin menghabiskan liburanku di arena balap saja. Mungkin aku akan kabur dari rumah dan menginap di salah satu rumah temanku mumpung ada kak Raisya di rumah, pasti abi akan sangat senang kalau tahu anak lelakinya yang badung sudah minggat dari rumah.
“Baca aja dulu, cobalah ganti suasana. Siapa tahu dengan membaca buku ini kamu akan mendapatkan sesuatu yang baik,” bujuknya.
“Ok, kalo nanti ingat,”
Aku sampai bosan mendengar ceramah yang itu-itu saja, mulai dari rajin beribadah, ajaran islam, cara beretika, dan hal-hal sepele lain yang tak kumengerti. Memangnya apa sih Islam itu? Aku memang bisa salat, bisa puasa itu semua sudah aku lakukan bertahun-tahun untuk bisa menyaingi kak Raisya tapi kenyataannya semua hanyalah sia-sia.
“Ya sudah, aku balik ke kelas dulu. Asalamualaikum,” balas Syifa.
“Waalaikum salam,”
Akhirnya, sesuatu yang sudah sangat ku tunggu-tunggu datang juga, bel pulang sekolah. Ini adalah sebuah anugerah yang tak terhingga buatku, tidak ada tempat yang nyaman untukku bahkan sekolah. Sekolah hanya sekedar formalitas saja agar aku bisa mendapatkan akses ke dunia luar. Kalau bukan karena abi yang selalu memberiku cermah pasti aku akan membolos setiap hari. Aku berharap abi sedang dinas jadi aku tak akan mendengar ceramah dan nasihatnya lagi.
Dua prajurit muda tampak sedang berjaga di depan gerbang dengan ornament kepala naga, ada juga seorang lelaki berpakaian doreng yang tengah sibuk mencatat di beranda pos provost[2]. Sudah jadi pemandangan biasa melihat lingkungan asrama dijaga ketat walaupun sudah ada tembok tinggi dan pagar berduri yang dipasang di sekeliling asrama. Bunyi tembakan peluru terdengar sampai ke gerbang masuk, tampaknya sedang ada latihan menembak bagi para prajurit baru. Dulu, aku sering pergi ke lapangan tembak hanya untuk memunguti selongsong peluru yang bisa dijual. Itulah salah satu kebiasan anak-anak tentara, terbiasa dengan suara tembakan, terbiasa dengan didikan militer.
Tepat seperti dugaanku, abi sedang dinas dan umi belum pulang dari tempatnya mengajar. Hanya ada kak Raisya di rumah, tepatnya sedang berada di kamarnya dan membaca berbagai buku kuliahnya. Aku merinding melihat buku-buku Kak Raisya yang tebalnya minta ampun, kak Raisya mengambil kuliah di Fakultas Farmasi di UGM. Dari SMA dia memang sudah menyukai kimia, dia juga masuk ke UGM dengan jalur beasiswa. Katanya sih mau meringankan beban umi dan abi. Secara ekonomi, kedua orang tuaku tidak terlalu terbebani dengan biaya kuliah kak Raisya, gaji abi sebagai tentara mencapai lima juta ditambah dengan gaji umi pasti cukup membiayai kuliah kak Raisya. Tapi dia tetap bersikeras mengambil jalur beasiswa. Bagiku dia hanya mau cari muka di depan umi dan abi.
Aku masuk ke dalam kamar, merebahkan badanku pada sebuah kasur empuk. Tanganku meraih remote audio player dan kemudian menyalakannya, kunaikkan volume suaranya. Mataku terpejam sambil menikmati alunan lagu dari Mettalica, berharap tak akan ada yang mengganggu ketenangan ini.
“Rafa, kecilin dong,”
“Berisik,”
Aku bangkit dari tempat tidur, mengacak-acak lemariku untuk menemukan kaos favoritku kemudian aku meraih sebuah jaket hitam yang tergantung.
“Kak, Rafa ke lapangan basket dulu. Ada janji sama Adit,”
“Hati-hati Fa,” balas kak Raisya.
Aku memacu motorku ke lapangan basket, tidak sampai sepuluh menit untuk mencapai lapangan itu. Di lapangan sudah ada beberapa anak kolong yang tengah asyik dengan bola basket yang berloncatan, sisanya sedang sibuk dengan ponsel masing-masing. Anak kolong adalah sebutan untuk anak-anak sepertiku, anak-anak yang lahir dan besar di asrama TNI. Mataku mencari-cari sosok-sosok yang paling berkuasa di lapangan ini, mungkin lebih tepat dikatakan kalau mereka yang tidak mempedulikan berbagai cibiran dari orang lain.
“Woy, ayo sini Fa,” ajak Digo padaku yang sedang memarkirkan motor, aku hanya membalasnya dengan senyum.
“Udah berapa nih skornya?,”
“Baru juga tiga lawan satu,” jawab Adit sambil mengoper bolanya kepadaku.
“Aku lagi males main basket, eh, kalian nanti malam ikut?,”
“Ikut dong, soalnya nanti malam tim Lightning Speed mau ngajak kita tanding?,” jawab Randy semangat. Aku kaget mendengar kata-kata Randy, tidak ada yang memberi tahu soal balapan tapi belum sempat aku bertanya Digo sudah angkat bicara.
“Kemaren si Reza nantangin tim kita, jadi kita sepakatin aja kalau malam ini tanding,”
“Aku enggak ikut,” kata Adit membuatku tersentak kaget sementara Digo dan Randy sepertinya hampir terjengkang dari tempatnya duduk saking kagetnya.
“Kenapa? Bukannya biasanya kamu sendiri yang paling semangat kalau ada acara beginian?,” selidikku, apa yang terjadi pada Adit sampai-sampai dia rela meninggalkan hobi yang digilainya ini.
“Aku ada janji sama orang, udah dulu ya. Aku mau pulang, belum salat,”
“Apa? Enggak salah denger nih Dit? Kamu salat?,” tanya Digo tak percaya, sementara Randy masih shock dengan kelakuan aneh Adit hari ini.
“Ya iya lah, kuping kalian masih sehat kan? Aku emang mau salat,”
“Dit, kamu sebenernya kenapa sih? Hari ini kamu aneh,” komentarku.
“Aku enggak aneh kok, cuma mencoba menjadi manusia yang lebih baik aja,”
Adit kemudian pergi meninggalkan kami yang masih terheran-heran dengan sikapnya itu. Tapi sepertinya dia tak ambil pusing, dia tetap melangkah ke motor sport hitam miliknya sementara kami masih bengong memandangi kepergiannya.
“Kenapa sih dia? Kok tiba-tiba jadi berubah drastis gitu?,”
“Enggak tahu juga tapi denger-denger dia udah baikan sama musuh bebuyutannya itu,” jawab Randy.
“Musuh bebuyutan? Maksudnya si Riana?,” tanyaku memastikan.
“Iya, memangnya siapa lagi kalau bukan dia. Padahal dulu Riana sendiri yang mati-matian melawan segala tingkah Adit, eh sekarang malah dia yang minta maaf duluan,”
“Ya udah lah, mungkin itu urusan pribadi mereka berdua. Balik yuk, jangan lupa nanti malam kita kumpul di markas,” balasku.
“Ok bos,”
Langit sudah dilukis dengan sinar jingga mentari sore, sinarnya mulai redup. Beberapa bangunan segi empat dengan warna hijau tua sudah terlewat, ada juga bangunan tua yang besar dipenuhi dengan saranng laba-laba dan debu tebal. Selain rumah yang berwarna hijau, rumah dinas di asrama kebanyakan letaknya berdempetan. Satu rumah dengan rumah yang lainnya hanya dibatasi oleh dinding. Jelasnya semua suara akan selalu terdengar, jadi kalau ada keributan sudah pasti tetangga kanan kirinya akan segera tahu.
Motorku berhenti di depan sebuah bangunan dengan warna yang sama, hijau. Memang hijau sudah mendominasi di asrama tentara, mungkin alasannya supaya seragam dengan pakaian dinas mereka. Yang membedakan rumah itu dari rumah lainnya adalah sebuah kursi kayu panjang yang dikelilingi berbagai pot tanaman bunga dan rerumputan.
Aku mengetuk pintu rumah Adit, berharap dia yang membukakan pintunya. Tepat seperti harapanku, Adit langsung membuka pintu. Betapa kagetnya aku saat melihat penampilannya saat ini, Adit mengenakan sebuah baju koko putih yang dipadukan dengan sarung.
“Enggak salah nih pakaianmu seperti itu?,”
“Emangnya kenapa?,” Adit balik bertanya.
“Aneh aja, selama aku kenal sama kamu aku enggak pernah liat kamu pakai baju koko,”
“Inilah yang dipakai ketika kita menghadap Allah,” komentarnya.
“Apa kamu enggak merasa melupakan sesuatu?,”
“Apa sih? Aku enggak lupa apa-apa kok,” jawabku setengah geram.
“Dahulukan salam sebelum kalam, ingat itu Rafa,”
“Iya maaf, Asalamualaikum,” kataku dengan sedikit jengkel, sepertinya Adit jadi seperti kak Raisya saja.
“Waalaikum salam,”
“Langsung aja deh Dit, aku ke sini karena aku penasaran sama perubahan sikap kamu hari ini,”
“Berubah? Maksudnya?,” tanya Adit bingung.
“Kamu jadi aneh, enggak mau ikut balapan, salat, sekarang pakai baju koko. Kamu kesambet apa sih?,”
“Oh masalah itu, memang aku berubah tapi aku berubah jadi lebih baik kan,” katanya.
“Terserah kamu deh, yang aku mau tahu apa yang bikin kamu jadi berubah drastis seperti ini,”
“Tempo hari Riana minta maaf sama aku, dia juga jelasin kalau islam mengajarkan kita untuk saling memaafkan,” jelas Adit.
“Terus hubungannya apa sama perubahan kamu?,”
“Aku juga jadi sadar Fa, kalau aku selama ini udah punya banyak kesalahan sama dia. Aku juga penasaran kenapa dia mau minta maaf sama aku, terus dia cerita kalau dia cuma enggak mau jadi orang yang dibenci Allah. Dari situ aku juga sadar kalau aku juga udah punya banyak kesalahan sama Yang Di Atas,” kata Adit panjang lebar.
“Yang Di Atas? Siapa sih? Cicak?,”
“Aduh, kamu loadingnya lama juga ya. Maksudku itu Allah, Sang Pencipta alam semesta ini.” jawab Adit.
“Oh, gitu,” komentarku datar.
“Sebaiknya kamu juga segera insyaf Fa, temukan arti islam yang sesungguhnya,”
“Ya, kalau inget,” jawabku enteng, sepertinya Adit benar-benar jadi seperti kedua orang tuaku dan kak Raisya. Dia sudah menjadi tukang ceramah tanpa bayaran yang suka ngomel-ngomel, hilang sudah teman baikku.
“Udah dulu Dit, aku mau pulang,” pamitku.
“Hati-hati Fa,”
“Kamu lupa sesuatu Fa,”
“Apa?,”tanyaku jengkel.
“Mengucap salam ketika keluar dari rumah,”
“Asalamualaikum,” kataku dengan setengah kesal.
“Waalaikum salam,”
Apa sih yang merasuki Adit sampai-sampai dia berubah 1800? Jangan-jangan Adit kesambet setan di rumah tua? Dia jadi sama seperti kak Raisya, suka mengatur-atur orang dalam dalam bersikap. Setiap orang kan punya gaya sendiri-sendiri, kenapa sih mereka harus repot-repot mengaturku?
Aku sampai di rumah ketika abi pulang, beliau masih mengenakan seragam PDH lengkap dengan topi baretnya. Kuparkirkan motorku di garasi, aku masuk lewat pintu belakang biar enggak kena semprot sama abi.
“Kenapa kamu masuk lewat pintu belakang?,”
“Malas lewat pintu depan,” jawabku, memang kenyataannya aku malas lewat pintu depan. Selain akan diceramahi abi sudah pasti aku akan dibanding-bandingkan dengan kak Raisya, sepertinya kedua ceramah itu sudah menjadi makananku sehari-hari.
“Rafa, Rafa, kapan kamu mau mendengarkan Abi? Selalu saja seperti ini,” sepertinya amarah abi mulai berkobar seperti biasanya.
“Ini juga lagi didengerin,”
“Lama-lama Abi capek bicara sama kamu!,”
Sepertinya kali ini abi benar-benar marah tapi aku tak peduli, abi pasti sebentar lagi akan membandingkanku dengan kak Raisya. Harus kuakui kalau kak Raisya memang lebih baik dariku tapi itu bukan alasan untuk selalu memojokkanku, aku kan juga anak abi. Kalau boleh memilih aku juga tak mau lahir di keluarga seperti ini, keluarga yang selalu mengagungkan kak Raisya sementara aku hanya mendapat hinaan dari mereka.
Aku melangkah pergi masuk ke kamar, aku tidak mau dibanding-bandingkan lagi dengan kak Raisya. Aku sudah muak selalu menjadi bahan pembanding dan selalu tak dianggap, mungkin bagi mereka aku hanyalah sampah masyarakat yang perlu dibasmi.
“Mau kemana kamu?,” bentak abi.
“Ke kamar,”
Teriakan abi masih terdengar dari balik pintu kamar, ini adalah hal yang biasa untukku mungkin sudah seperti makan atau bernafas. Selalu saja seperti ini, selalu dibandingkan dengan kak Raisya, selalu dinasihati ini itu dan selalu diatur-atur. Kapan aku bisa bebas dari semua ini? Aku lelah, aku lebih memilih tidur dan berharap malam segera datang. Kalau abi tidak menizinkan ku pergi, aku akan kabur seperti biasanya.
*****
